Apakah yang dimaksud dengan Flash Fiction?
Flash Fiction (FF)—yang biasa disebut flashfic, sudden fiction, micro fiction, postcard fiction, atau short-short fiction—merupakan sub genre dari cerita pendek atau cerpen. Bedanya, jumlah katanya lebih sedikit.
Wah, banyak sekali penyebutannya.!
Itu dikarenakan belum ada kesepakatan hingga kini penyebutannya. Di china dan Jepang, FF disebut sebagai cerita seukuran telapak tangan. Ada juga yang menyebut cerita satu cerutu, karena bisa dihabiskan hanya dengan beberapa hisapan rokok.
Jadi, berapa batasan kata dalam FF?
Tidak ada konvensi yang disepakati mengenai banyaknya jumlah kata. Tetapi, beberapa sumber menyebutkan FF harus kurang dari 2000 kata. Landasannya berangkat dari definisi cerpen yang biasanya terdiri dari 2000-20.000 kata. Di atas itu, karya fiksi akan digolongkan menjadi novellette atau novel.
Sumber yang lain menyebutkan, FF kurang dari 1000 kata.
Jadi boleh 100 kata?
Menilik definisi di atas, jawabannya boleh. Beberapa lomba FF, malah mensyaratkan pemakaian kata sejumlah tertentu. Misalnya 55 kata, 100 kata, 150 atau 200 kata.
Jumlah segitu apa tak terlalu singkat?
Justru disitulah letak tantangannya.
Maksudnya, letak kesulitannya?
Berpikir sesuatu ’sulit’ akan membuat semangat kita melemah. Lain halnya jika kita berpikir positif. Kata ’tantangan’ biasanya malah memicu sel-sel kelabu untuk berkarya.
Oiya?
Dalam buku ’Awaken the Giant Within’ Anthony Robbin mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat kuasa raksasa. Sayangnya, pada kebanyakan manusia, ’raksasa’ ini masih tertidur. Untuk membangkitkannya, salah satu caranya adalah dengan berpikir positif.
Saya tahu pertanyaan saya mungkin terdengar bodoh. Tapi, siapa Anthony Robbin itu?
Dia adalah motivator #1 di dunia.
Oiya? Wah, berarti saya mesti banyak-banyak membaca buku motivasi. Kembali ke FF, mengapa orang bisa tertarik membaca FF? Bukankah kalau terlalu singkat tak enak bacanya.
Karya FF sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi, FF baru mendapat tempat ketika perkembangan internet telah demikian pesat. Ini sesuai dengan tipologi para pengguna dunia maya yang biasanya tertarik membaca karya-karya singkat yang tak terlampau panjang. Panjangnya, mungkin satu halaman layar atau separuhnya. Biasanya, lebih dari itu mereka cenderung akan melewatinya.
Benar sekali. Rasanya jenuh kalau baca cerita yang panjang-panjang.
Apa karena minat baca saya kurang, yah?
Bisa jadi demikian. Tapi bisa jadi, ada ketidaknyamanan saat membaca melalui layar komputer. Mungkin pengaruh radiasi layar. Rata-rata orang mengalaminya. Dari sisi psikologis, saat orang menggerakkan kursor ke bawah atau menscroll down mouse, kadangkala secara tak sadar mereka akan mengeluhkan betapa panjang tulisan yang akan mereka baca.
Jadi, bukan hanya saya saja, yah?!
Mungkin itu juga dikarenakan karena internet menawarkan banyak hal. Informasi, edukasi atau hiburan. Para penggunanya bisa berpindah-pindah topik dengan cepat. Ini juga yang menjadi penyebab, mengapa orang yang duduk di depan internet cenderung tidak fokus di satu topik. Lain halnya jika mereka membaca buku. Mereka akan terpaku di satu topik, suka atau tidak suka.
Tadi dikatakan, jumlah kata dalam FF bisa 100. malah ada yang 55. Nah, tantangannya dimana? Bukankah mudah sekali membuat cerita dengan kata sedikit begitu?
Oiya? Kalau begitu coba Popi bikin.
{Popi mengambil kertas, lalu mulai menulis. Berikut ini tulisannya}
Pada suatu hari, hiduplah seorang raja. Raja itu mempunyai empat orang anak. Anak tertuanya bernama Chimunk, yang kedua Chinduk, ketiga Chimenk. Anak bungsunya bernama Cyblenk. Cyblenk ini mempunyai hobi tidur. Tidurnya bisa dimana-mana. Di tempat tidurnya sendiri, di karpet istana, di taman, di bawah pohon, di pinggir jalan. Pendeknya, dimana-mana ia gampang menguap. Suatu ketika—
Stop! Sudah 55 kata.
Oiya?! Wah, Jadi gampang banget khan bikin cerita FF?!
Iya, selamat. Popi sudah berhasil membuatnya.
{Popi tersenyum puas}
Lantas, dimana tantangannya? Saya saja, yang baru belajar, langsung bisa membuatnya.
Tantangannya sebenarnya terletak pada tema yang telah dipilih. Dengan jumlah kata yang minim, penulis FF dituntut untuk menyelipkan tema dalam tulisannya. Nah, keberhasilan FF, salah satunya ditentukan dari suguhan tema yaang mengandung pesan/moral pada pembaca.
Apa harus seperti itu?
Kebanyakan demikian. Pesan moral tidak harus dinyatakan eksplisit. Cerita yang bagus, pesan moralnya tersamarkan dalam alur cerita dan kejadian-kejadian. Dari sanalah, pembaca akan bisa menangkap pesan yang tersirat.
Bukankah cerita saya di atas juga ada pesan moralnya?
Kalau menurut Popi sendiri?
Ada donk. Khan cerita di atas berkisah tentang orang yang tidur! Sedangkan kita tahu, bahwa tidur itu tidak baik bagi kesehatan. Semua orang juga pasti tahu, kalau kebanyakan tidur juga akan mendatangkan rasa malas. Pada gilirannya, produktivitas jadi rendah.
Orang yang malas biasanya bodoh. Pikirannya tak maju-maju. Cyblenk dalam cerita itupun begitu.
Darimana bisa membuat kesimpulan seperti itu?
Lho, bukankah sudah banyak contohnya dalam kehidupan nyata?
Yang kita bicarakan sekarang adalah dunia cerita, bukan dunia nyata. Memang, cerita-cerita biasanya merepresentasikan keadaan dunia yang sebenarnya. Tetapi, kita tak boleh menyimpulkan seperti itu kalau tidak ada keterangan teks/konteks cerita yang menyatakannya. Seperti dalam cerita tentang anak raja di atas, tidak ada teks yang menyatakan kalau tidur itu tak bermanfaat, membikin bodoh, dan lain-lain.
Oh, jadi mesti dituliskan semua di dalam ceritanya, yah?!
Tidak harus selalu dinyatakan eksplisit. Yang terpenting, pesan itu sampai pada pembaca nantinya.
Oh, kalau gitu, akan saya coba tambahkan beberapa puluh kata lagi. Agar nanti jumlahnya pas 100 kata. Sehingga akan jadi FF 100 kata. Tunggu sebentar, yah.
{Popi menambah tulisannya tadi yang belum selesai, sambil menghitung jumlah katanya, agar tak melebihi 100 kata}
Suatu ketika, Cyblenk dibangunkan oleh ayahnya, yang berkata. ”Cyblenk, tak baik terlalu banyak tidur, Nak!” Kakak-kakaknyapun juga mengatakan hal yang sama. Mereka lalu tak segan membangunkan Cyblenk bila kedapatan ketiduran. Sejak kejadian itu, Cyblenk mengubah kebiasaannya. Ia lalu tumbuh menjadi anak yang rajin dan cerdas.
Nah, pas 100 kata! {Popi tersenyum bangga}
Benar. Hebat. Ternyata popi berbakat juga mengarang cerita.
Jadi, secara pesan moral, cerita yang saya buat sudah OK?
Sebenarnya lumayan. Tapi masih agak kurang gregetnya.
Kurang gregetnya dimana?
Coba kita telaah lagi. Cyblenk hobbinya tidur. Dimana-mana ia ketiduran. Mengubah kebiasaan, bukankah cukup sulit dan butuh waktu? Dari cerita di atas, sepertinya gampang banget Cyblenk berubah. Hanya diberi wejangan ayahandanya, dan dibangunkan kayak-kakaknya, ia sudah berubah dan sadar kelalaiannya
Tapi, bisa saja khan memang demikian?! Bisa saja Cyblenk cepat sadar kesalahannya. Makanya ia cepat berubah.
Memang, bisa saja semudah itu. Tapi, dengan membuat mudah jalan cerita, secara tak langsung kita sudah membuang sendiri karya kita ke recycle bin.
Wuih, benarkah?
Cerita-cerita tak menarik, bukankah lambat atau cepat pasti disingkirkan pembaca?
Jadi cerita di atas sama sekali tak menarik?
Bukan begitu. Kalau cerita di atas lebih diasah, pasti terasa lebih menarik.
Contohnya gimana?
Tadi sudah sempat kita bahas, bahwa mengubah kebiasaan memang sulit dan memerlukan waktu. Andaikata bisa berubah drastis , berarti ada hal-hal luar biasa yang terjadi.
Bukankan kejadian ditegurnya Cyblenk oleh ayahnya, dan dibangunkannya ia oleh kakak-kakaknya adalah kejadian luar biasa? Jarang-jarang ada kakak yang kompak seperti itu. Ayahandanya, yang juga raja, juga pasti sibuk. Makanya, jarang-jarang ada orang tua yang perhatian seperti itu...
Memang, tapi itu masih tak cukup. Mungkin akan lebih menarik jika begini...
Cyblenk masih badung dan bengal,walaupun sudah diingatkan berkali-kali. Hingga suatu ketika, saat ia mengantuk, tiba-tiba ia tidur di pinggir kolam. Ia baru terbangun saat tubuhnya jatuh ke air. Byuur! Badannya dikerubuti ikan Arwana. Kaki dan tangannya terasa perih. Ia lalu meminta tolong. Karena suasana sepi, tak seorangpun menolongnya. Dengan sekuat tenaga, ia menggapai tepi kolam. Lalu dengan napas terengah, ia mengangkat badannya yang tambun. Rasa perih lantas menjalar. Barulah kemudian, datang kakak-kakanya yang segera menolongnya. Sejak kejadian itu, Cyblenk lebih berhati-hati. Ia berjanji pada dirinya agar tidak mudah tidur di sembarang tempat.
Wah, iya. Memang lebih menarik kalau ditambahi begitu.
Itu salah satu contoh saja. Bisa dibuat dengan alur lain.
Iya. Tapi dengan tambahan begitu, bukankah akan makin panjang ceritanya? Gabungan cerita kita bukan lagi 100 kata. Bisa-bisa, malah lebih dari 200 kata.
Maka dari itu, cerita yang kepanjangan, harus dicompress. Bagian yang tak penting dihilangkan.
Seperti misalnya?
Deskripsi yang berlebihan. Detail yang tak perlu. Misalnya, tak perlu menyebut ketiga nama kakak Cyblenk. Juga nama-nama tempat. Misalnya begini...
Cyblenk anak bungsu raja. Hobinya tidur saja. Dimana-mana ia tidur leluasa. Tak mempan ayahnya menasehati. Juga ketiga kakaknya.
Siang yang sepi, Cyblenk tertidur dekat kolam. Tak lama, ia tercebur. Ikan Arwana mencacah kakinya. Perih makin perih karena tak ada yang menolongnya. Tertatih, ia keluar kolam, sembari berjanji. Selepas ini, ia tak akan tidur sembarangan lagi!
Sudah, gitu aja?
Iya, coba hitung berapa jumlah katanya.
Wah, 55 kata! Hanya 55 kata!! Bagaimana bisa membuat begitu? Apa trick & tipsnya?
Sebagaimana disinggung sebelumnya, buang bagian-bagian tak penting, yang tanpa bagian itu, makna cerita tak berkurang. Perlu disadari, dengan makin sedikitnya cerita, penokohan atau karakter menjadi sesuatu yang hampir mustahil untuk digambarkan. Kalaupun bisa, hanya sepintas saja. Itupun dalam bentuk kejadian atau percakapan singkat.
Pada contoh di atas, kita hanya tahu Cyblenk berwatak badung. Itu makin terasa setelah beberapa nasehat tak diindahkannya. Di sini, watak raja dan kakaknya tak terdiskripsi. Apakah raja orang yang bijaksana atau lalim pada rakyatnya? Apakah kakak-kakaknya sabar, ramah atau sebaliknya? Itu semua tak terjawab. Memang bukan scope FF untuk menjawabnya! Itu tugas cerpen, cerber atau novel!
{Diskusi berakhir.}